19 Oktober 2008

Asal-Usul Pengemis!!!

Setiap hari kita melihat kaum yang termarjinalisasi ini di pinggir jalan dengan berbagai tingkah polah. Dari anak kecil sampai nenek2 pun gak kalah menengadahkan tangan-nya kepada pejalan kaki maupun para pengendara motor maupun mobil. Penampilan mereka pun kerap membuat kita iba, baju compang-camping, lusuh, kotor, dekil, kurus, mata sayu seperti belum pernah menyentuh makanan selama sebulan dan cacat fisik. Tapi ada satu hal yang membuat saya jengkel melihat ada seorang pemuda yang badan-nya masih segar bugar ikut-ikutan mengemis dengan gaya memiliki cacat fisik di kaki, kaki-nya dibuat seolah-olah buntung dengan dibalut gips yang ternyata isinya tape, tape diolah sedemikian sehingga banyak yang lalat yg mengerubuti luka di kaki itu. Trik ini pernah di tayangkan di salah satu TV swasta. Siapa yang gak iba melihat kondisi tersebut dan mau gak mau kita harus rela merongrong hati nurani.

Inilah asal-usul pengemis di tanah jawa ini ( benar atau tidaknya, wallahu alam bisawab )

Pada masa kejayaan keraton Surakarta yang pada waktu itu masa pemerintahan Pakubuwono ke-X, beliau terkenal bijaksana dan adil kepada rakyatnya.

Beliau mempunyai banyak kereta yang berasal dari Belanda, masing-masing kereta tersendiri, ada yang untuk pesiar, ada yang untuk perkawinan putra raja, ada yang untuk penobatan raja.

Pangeran Pakubuwono ke-X, raja terakhir di keraton Surakarta. Beliau sering meninjau daerah/wilayah keraton Surakarta dengan salah satu kereta tersebut.

Didalam perjalanan Pangerang membawa banyak bekal berupa uang, kemudian ditaburkan disetiap jalan dan oleh rakyat uang tersebut dipungut

Hal tersebut dilakukan setiap hari Kamis sore, sehingga akibatnya setiap hari Kamis sore sudah pasti rakyat akan selalu berjajar di pinggir jalan.

Konon uang tersebut merupakan uang keramat, yang bisa mendatangkan rejeki. Oleh karena itu maka uang itu akan dimasukkan ke dalam kantong putih kecil dan selalu dibawa ke mana-mana.

Uang tersebut tidak akan dibelikan untuk ditukar dengan uang biasa, sekalipun mungkin berlipat sepuluh kali.

Begitulah kisah mendapatkan uang keramat pada hari kamis itu, akhirnya dikenal dengan sebutan Pengemis karena setiap hari Kamis banyak orang berkumpul untuk mendapatkan uang yang ditaburkan oleh Pangeran Pakubuwono ke-X. Sehingga, sampai sekarang sebutan pengemis masih dipakai dan bahkan dimasukkan ke dalam perbendarahan bahasa indonesia yaitu pengemis.

Tapi pengemis sekarang tidak perdulikan hari, entah itu hari Senin, Selasa, semuanya sama saja dianggap hari Kamis. Kebutuhan perut koq ditunda-tunda.

Tapi terlepas dari itu semua, ada keprihatinan dari cara sang Pangeran itu, perbuatan itu mulia karena ingin memberikan sedekah kepada rakyatnya yang miskin dan kelaparan, tapi secara tidak disadari rakyatnya diajari untuk menjadi pemalas dan hanya selalu menunggu uang ditebarkan pada hari Kamis.

Perbuatan mulia tapi menimbulkan masalah dibelakang hari dan sampai jaman sekarang pun menimbulkan keprihatinan di dalam hati kita masing-masing.

Kita mengemis kepada negara barat, mengutang kepada IMF dengan syarat-syarat yang mencekik leher kita sendiri, SDA kita dikuras abis2an dan menimbulkan dampak lingkungan serius dan kita sendiri hanya jadi obyek yang diperas kayak sapi perah.

Haruskah kita menjadi bangsa pengemis????